aku melihatmu di bilah benua
dengan sejuta senyum yang enggan menua
bagai prasasti
tentang sebuah pena yang terbujur kaku
aku tersenyum di pelupuk mata
dengan bias airmata terahir
semua beriringan searah ancaman
yang kini terukir dalam bongkah batu perpisahan
mungkin kata-kata tak mampu membungkam jarak
dan kini hati telah lapuk
mencumbu impian yang melingkari
namun bersamamu aku akan tetap tersenyum
di ujung benua
akan ku taruh rindu di ruang hampa
diantara cinta yang berserakan tak tertata
pelukan ini biarlah merekah
bagai mawar hitam menyambut pagi
dan sejuta titik yang mengelilingi
semua akan menjadi hiasan sebuah pertemuan
kau disana
yang sedang bersandar menanti senja
usaplah airmatamu
yang menetes tak menentu
karena semua itu melumatkanku
esok di ujung benua
aku akan selalu berpijak
dalam sebuah penantian. . . .bersamamu. . .
bersama janji sebuah persimpangan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar